Sepahit kenyataan yang dihadapi

Puisi ini terlahir ketika aku merasakan  derita teman  yang terkekang dalam di tengah harmonisnya keluarga .

 

Aku terkekang dalam sangkar emas yang tampak berkilau dari pandangan luar. 

Kulit sangkar ini terus memancarkan kekaguman hingga decakan salut selalu terdengar mengiris kalbuku. 

Ya, kalian hanya terfokus pada lapisan yang membungkus senyumku yang getir. 

Apakah mata batinmu mampu menembus lara yang tersemat dari gundukan lara dalam duka tak menentu. 

 

Jiwa yang rapuh kian kusam dalam pendaringan yang tak semestinya. 

Jasad ini masih bernyawa tapi mengapa seolah raga telah meninggalkannya dalam kehampaan. 

Hidup seakan mati, mati namun organ tubuh masih bekerja sempurna. 

Inikah rasanya siksa kiamat yang datang belum pada waktunya, namun mengapa sakitnya telah menusuk kenyataan. 

 

Lebih baik mati sesungguhnya daripada seonggok jasad ini meregang tak berujung. 

Seindah apakah cakrawala di luar sana, layakkah kerapuhan ini bisa merasakan lembutnya pantulan surya. 

Aku ingin terbang mengelilingi buana yang selalu tersenyum dalam taburan gemintang cemerlang. 

Aku ingin merasakan hangatnya rembulan yang memercikkan magis kehidupan dalam sejati cinta. 

 

Tuhan....... 

Beri kesempatan itu padaku sebelum Engkau menutup usia ini. 

Tuhan...... 

Izinkan aku merasakan dihargai akan kehadiranku meski hanya sesaat dan cuma sekelumit orang saja yang menerima keberadaanku. 

Tuhan...... 

Bantu aku untuk kepakkan sayap agar dunia menerimaku dan membungkus kehadiranku dengan kasih sejati-Mu.


Rina Indrawati
Rina Indrawati Rina Indrawati, seorang ibu rumah tangga yang menjadikan menulis sebagai terapi jiwa. Ada kebahagiaan tak terhingga yang dirasakannya setiap kali berhasil merangkai kata menjadi sebuah tulisan. Kebahagiaan itu pula yang mengantarkannya melahirkan dua buku solo: Rajutan Awan (2021) dan novel fiksi Rana Jelita (2024). Pengalamannya juga diperkaya dengan keikutsertaan dalam berbagai event antologi. Saat ini, Rina sedang fokus mengembangkan tulisannya di situs literasi rajutanaksara.com. Ingin mengenal Rina lebih dekat? Jangan ragu untuk menghubunginya: Ponsel: 08118411692 Instagram: rinaindrawati16 TikTok: rinaindrawati6

12 komentar untuk "Sepahit kenyataan yang dihadapi"

  1. puisinya keren, dapetlah makna isi dari puisi yang mbak tulis

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih apresiasinya , ditunggu selalu di raksa ya

      Hapus
  2. Aduuuh, kapan update episod dari cincin bermata tiga mbak? udah gak sabaran nih, cepetan apa updatenya

    BalasHapus
    Balasan
    1. setia ya selalu pantau raksa dan pasti deh episode kelanjutanya ada

      Hapus
  3. Wah konsisten update postingan terus ya, semangat mbak, terus update yang bisa membawa manfaat untuk banyak orang, aku kalau boleh saran, kasih postingan motivasi dong, biar orang-orang yang sedang down, bisa Move on dari keterpurukannya, bisalah bikin tulisan untuk memotivasi orang-orang

    BalasHapus
    Balasan
    1. di tunggu ya mba dengan setia di raksa karena episode cincin bermata tiga masih lanjut terus

      Hapus
  4. mantul mantap betul, tampilan keren tulisannya juga keren, terus semangat yaa, harus tetap konsisten dan tulisannya terus dijaga kualitasnya

    BalasHapus
  5. Masya Allah, bagus puisinya

    BalasHapus
  6. Kapan update episod cincin bermata tiga mbak? ini baru episod 3 yang sudah aku baca, ditunggu-tunggu malah postingan lain, kirain cincin bermata tiga, ditunggu ya, jangan lama-lama ya, sudah gak sabar nih kelanjutannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. setia terus ya di raksa karena episode cincin bermata tiga masih lanjut terus

      Hapus
  7. Kata-katanya kok bisa sih terangkai indah begitu, Mbak? Maju terus berkarya...

    BalasHapus

Yuk komennya, boleh banget kalau mau request atau yang lainnya. kami harapkan Masukan berupa kritikan dari kalian dengan bahasa yang membangun