Uang di atas raja
Alhamdulillah...
Terima kasih, Ya Allah.
Mari
kita rasakan pagi ini. Syukur kepada Illahi, kita masih diizinkan hidup.
Rasakan
nafas yang masuk ke dada kita, begitu leluasa, dan gratis pula.
Gerakkan
tangan dan kaki kita, rasakan bahwa organ tubuh ini masih setia berfungsi tanpa
kendala.
Sungguh,
inilah kenikmatan sejati yang "kudu" dan harus kita syukuri.
Namun,
saudaraku...
Seringkali
hati kecil ini membantah, "Ah, bicara memang gampang."
Padahal
kepala rasanya pening, "mumet" memikirkan persoalan.
Terbayang
bayaran sekolah yang menunggak, token listrik yang sudah berbunyi mendecit
minta diisi, belum lagi kebutuhan-kebutuhan lain yang antre minta dipenuhi.
Rasanya...
kepala mau pecah.
Ya,
benar sekali.
Kenapa
seolah semua persoalan hidup itu UUD—Ujung-Ujungnya Duit?
Orang
bilang uang bukan segalanya, tapi kenyataan di lapangan justru uanglah penopang
hidup.
Hal
paling sederhana saja, mau buang hajat ke toilet umum pun mesti bayar.
Ah,
uang... kau seolah menjadi raja di atas raja.
Coba
kita lihat sekeliling.
Ada
orang kaya yang semakin berlimpah pundi-pundi hartanya. Nominal di rekeningnya
terus meroket, belum lagi warisan yang tak habis tujuh turunan.
Namun
di sisi lain, lihatlah si "papa". Hidupnya "ngeblangsat",
gali lubang tutup lubang, yang tragisnya... lubangnya justru semakin lebar
menganga.
Di
satu sudut kota, banyak orang berpesta dalam gemerlap kemewahan, bahkan makanan
sisa pesta terbuang sia-sia.
Tapi
di sudut lain, sungguh tragis... ribuan nyawa sedang mengais sesuatu hanya
sekadar untuk menyambung nafas hari ini.
Lalu,
tanyakan pada dirimu sendiri saat ini:
Di
mana posisimu?
Apakah
engkau si "borju" yang tinggal sebut ingin apa langsung ada?
Atau
engkau menjadi si "papa" yang nafasnya sesak terlilit persoalan uang?
Saudaraku,
dengarlah...
Sudahlah,
nikmati saja semua proses dan persoalan hidup ini.
Karena
sejatinya, mau kau kaya ataupun miskin, kelak semuanya tetap harus,
"kudu", dan mesti mempertanggungjawabkan segalanya di hadapan Hakim
Yang Paling Adil.
Apalagi
urusan uang dan harta. Duh, ngeri... pertanggungjawabannya sungguh berat. Dari
mana didapat, dan untuk apa dihabiskan.
Maka,
untuk saat ini, hiduplah dengan bijak.
Jangan
besar pasak daripada tiang.
Jangan
terjebak sifat konsumtif hanya demi mengikuti arus milenial.
Sadarlah
akan kemampuan diri, namun jangan pula merasa minder untuk bergaul.
Jika
engkau sedang jadi si "borju", janganlah sombong.
Bersedekahlah
dengan harta bendamu, berbagilah pada yang fakir, dan pedulilah pada yang
miskin.
Ingatlah
selalu, harta itu hanyalah titipan.
Lantas,
jika Sang Pemilik Titipan itu memintanya kembali, kita bisa apa?
Dengan
teramat mudah bagi Allah untuk membalikkan posisi kita.
Karena
sesungguhnya, Allah-lah pemilik mutlak seluruh jagad raya beserta isinya.
Astaghfirullahaladzim...
Semoga
kita menjadi hamba yang pandai bersyukur dan amanah atas titipan-Nya.
Posting Komentar untuk "Uang di atas raja"
Yuk komennya, boleh banget kalau mau request atau yang lainnya. kami harapkan Masukan berupa kritikan dari kalian dengan bahasa yang membangun